Kata Puseh adalah berasal dari kata puser yang berarti
pusat. Kata pusat di sini mengandung makna sebagai pusatnya kesejahteraan
dunia yang mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia,
sehingga upacara-upacara yang berhubungan dengan kesuburan dunia dilaksanakan
di Puseh.
Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara dari ciptaan Hyang Widi
dalam seni arca digambarkan dengan laksana atau ciri bertangan empat yang
masing-masing memegang, cakra, sangka dan buah atau kuncup teratai. Wahana
adalah Garuda, sedangkan saktinya adalah Sri atau Laksmi (Dewi Kebahagiaan).
Mengenai denah dari Pura Puseh dapat dibagi atas dua bagian sebagaimana denah dari Pura Desa. Pembagian atas dua bagian tersebut adalah: halaman pertama atau disebut dengan jabaan dari pura dan halaman kedua disebut jeroan dari pura. |
Elah da ulaha.. Elah patut alih pang nyak hidupe aluh.. ane penting sing Elah ulian ulah aluh..
Minggu, 06 Mei 2012
Pura Puseh
Pura Desa
Pura ini disebut dengan nama Pura
Desa karena pura ini lazim ditempatkan di pusat desa yaitu pada salah satu
sudut dari catuspata (perempatan agung).
Masyarakat tradisional Bali selaku kelompok masyarakat budaya dalam mengatur desa selaku daerah pemukiman dengan kelengkapannya seperti: pura, bale banjar, pasar, rumah, jalan, diatur dalam satu tata ruang. Filosofis pengaturan tata ruang tadi berdasarkan konsep catus pata dan luan teben, misalnya: pasar, wantilan, Pura Desa, rumah pembesar desa ditempatkan pada sudut-sudut dari catus pata.
Pura Desa menjadi tempat pusat kegiatan pelaksanaan upacara untuk kepentingan desa seperti upacara Ngusaba Desa, pasamuhan batara setelah upacara melis yang dilaksanakan sebelum upacara Panyepian. Pada beberapa daerah di Bali, Pura Desa disebut pula dengan nama Pura Bale Agung. Nama ini kemungkinan diambil dari nama bangunan Bale Agung yang terdapat pada bagian halaman pertama dari pura tersebut.
Catus merupakan perubahan ucapan dari kata catur artinya
tempat. Perubahan wianjana r menjadi s memang sering terjadi seperti dursila
menjadi dussila menjadi susila, nirkala menjadi niskala dan lain-lain. Pata
merupakan perubahan ucapan dari kata pada yang berarti dunia/alam. Dengan
demikian catus pata adalah daerah bertemunya pengaruh yang datang dari empat
buah slam yang ada di sekitar dunia ini (Timur, Selatan Barat dan Utara). Wujud
nyata sebuah catus pata adalah jalan simpang empat atau perempatan.
Masyarakat tradisional Bali selaku kelompok masyarakat budaya dalam mengatur desa selaku daerah pemukiman dengan kelengkapannya seperti: pura, bale banjar, pasar, rumah, jalan, diatur dalam satu tata ruang. Filosofis pengaturan tata ruang tadi berdasarkan konsep catus pata dan luan teben, misalnya: pasar, wantilan, Pura Desa, rumah pembesar desa ditempatkan pada sudut-sudut dari catus pata.
Pura Desa menjadi tempat pusat kegiatan pelaksanaan upacara untuk kepentingan desa seperti upacara Ngusaba Desa, pasamuhan batara setelah upacara melis yang dilaksanakan sebelum upacara Panyepian. Pada beberapa daerah di Bali, Pura Desa disebut pula dengan nama Pura Bale Agung. Nama ini kemungkinan diambil dari nama bangunan Bale Agung yang terdapat pada bagian halaman pertama dari pura tersebut.
Kamis, 03 Mei 2012
Mencari Tanggal Lahir berdasarkan otonan/weton >Klik disini.
Mencari/mengetahui Hari Raya Hindu >Klik disini.
Untuk Mengetahui Rahinan/hari suci >Klik disini.
Mengetahui Purnama dan Tilem pada tahun ini atau tahun yang lain. >Klik disini.
Mengetahui piodalan di pura/merajan (misalnya Purnama Kapat), tanggal
berapa jatuhnya piodalan tersebut? >Klik disini.
Mencari tanggal jatuhnya ala-ayuning dewasa tertentu (misalnya
semut sedulur, kala gotongan, dll). >Klik disini.
Info ala-ayuning dewasa yang ada pada hari ini atau waktu yang lain. >Klik disini.
Info hari libur, fakultatif dan peringatan pada bulan ini atau waktu
yang lain.> Klik disini.
Selasa, 01 Mei 2012
Bhuta Yadnya
Kata “Bhuta” sering dirangkaikan dengan kata “Kala” yang artinya “waktu” atau “energi” Bhuta Kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya.
Bhuta Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kehadapan Bhuta Kala yang tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Bhuta Kala dan memanfaatkan daya gunanya.
Langganan:
Komentar (Atom)
